Mengapa Climate-Tech Startups di Indonesia Sulit Berkembang?

Ecoxyztem sebagai Venture Builder yang fokus pada Climate-Tech Startups, pernah membuat survei kepada 80 ecopreneur di Indonesia akan tantangan mereka dalam mengembangkan usaha rintisannya.

INSIGHTPERSPECTIVE

Dicky Ahmad

2/10/20223 min read

buku tulis dan tulisan refleksi

Para founder usaha rintisan atau startup pasti memahami bahwa mereka akan menghadapi serangkaian tantangan dalam mengembangkan startup-nya. Jika Anda sebagai founder sudah menyadari hal itu dan secepatnya membutuhkan bantuan, kami sarankan tutup artikel ini dan segera hubungi kontak di sini.

Ecoxyztem sebagai Venture Builder yang fokus pada Climate-Tech Startups, pernah membuat survei kepada 80 ecopreneur di Indonesia akan tantangan mereka dalam mengembangkan usaha rintisannya. Kebanyakan, para founder sangat lihai membuat sebuah gagasan mengenai solusi mengatasi krisis lingkungan, namun sedikit yang berlanjut menuju fase mewujudkannya menjadi sebuah entitas bisnis yang dapat dikembangkan. Pada survei tersebut, kami mendapati ada 7 tantangan umum para ecopreneur di level awal usaha rintisan, yakni akses permodalan, akses SDM, akses pasar, metodologi startup, tata kelola organisasi, teknologi pendukung, regulasi pemerintah. Di artikel ini, kami akan merangkumnya menjadi 3 tantangan utama yang belum teratasi dan sangat perlu ditangani untuk mempercepat pertumbuhan startup teknologi iklim.

Tantangan #1: (Asistensi) Metodologi Startup

74,6% ecopreneur menempatkan tantangan untuk mendapatkan bantuan metodologi startup yang tepat sebagai tantangan utama.

Pada usaha rintisan teknologi iklim, metode kewirausahaan tidak hanya terbatas pada bagaimana usaha tersebut mampu mencetak laba, namun juga harus diperhatikan parameter dampaknya terhadap upaya perbaikan iklim melalui teknologi tepat guna.

Ecoxyztem menilai untuk mengejari gap ini, perlu juga menerapkan pemahaman bahwa founder tidak bisa menjalankannya sendiri. Dalam merintis usaha mulai dari nol hingga satu mungkin saja bisa dilakukan semua secara individu, asalkan didampingi oleh pihak yang kompeten dalam mengisi ruang-ruang kosong dari keterbatasan ecopreneur. Pihak-pihak tersebut bisa dari inkubator, akselerator, institusi perguruan tinggi, pemerintah terkait, atau bahkan dari lembaga yang secara holistik dapat mengakomodir tantangan tersebut salah satunya ialah venture builder.

Tantangan #2: Akses Permodalan

63,4% peserta survei menjawab mereka punya masalah dengan hal ini. Well, tentunya ini berlaku untuk semua usaha; Anda butuh uang. Banyak faktor yang mendasari para ecopreneur punya kesulitan mengakses permodalan untuk mengembangkan usaha rintisan mereka. Selain minim relasi, biasanya ecopreneur tidak banyak yang berasal dari bidang akademis kewirausahaan yang menyebabkan mereka perlu waktu lebih untuk menempa pemahaman bisnis sekaligus menyempurnakan MVP mereka.

Beberapa dari ecopreneur mengaku pernah lebih dari tiga kali melakukan pitching ke calon investor, namun gagal karena kurangnya aspek analisa kelayakan bisnis. Track record yang bagus akan menjadi salah satu untuk memancing perhatian pemilik akses modal. Dalam hal ini, perencanaan keuangan bukanlah satu-satunya syarat mutlak yang harus di-highlight. Performa bisnis (khususnya tata kelola keuangan) sejak nol hingga saat melakukan pitching pun akan menjadi catatan tersendiri bagi pihak penyandang dana.

Ecoxyztem mendapatkan data bahwa besaran market global di isu teknologi bersih (clean energy) di tahun 2020 adalah $1,3 triliun. Selain itu, prediksi market tahunannya dalam 10 tahun ke depan di negara-negara berkembang adalah $640 milyar. Jadi, secara permodalan tentu ini cukup menjanjikan. Itulah yang kami capture guna mengejar kesenjangan antara ketersediaan finansial dengan usaha rintisan teknologi iklim yang layak.

Tantangan #3: Akses Market dan Regulasi

Di tantangan yang ketiga ini, sedikitnya 53,5% ecopreneur menjawab bahwa mereka sulit menemukan pasar yang luas dari bisnisnya. Selain itu, di antara banyaknya regulasi pemerintah yang telah dirilis, khususnya di isu kewirausahaan sosial dan teknologi iklim, ecopreneur kebingungan menavigasinya menjadi sebuah peluang.

Tidak mulusnya jalan untuk mengkomersialisasi teknologi iklim menjadi produk konsumsi layak dan umum membuat banyak calon founder yang berpikir ulang untuk terjun ke sektor ini. Secara paradoks, sedikit angin segar muncul belakangan di mana Indonesia saat ini sedang mengalami gelombang innovator teknologi baru yang peduli dengan isu Environmental, Social and Corporate Governance (ESG).

Produk dengan teknologi tepat guna dan harga yang kompetitif sudah pasti bakal sukses diterima pasar, ya itu teorinya. Faktanya, berapa banyak usaha rintisan teknologi iklim yang punya produk/bisnis yang bertumbuh? Terhitung jari. Kebanyakan prematur di produk yang tidak terkomersilkan serta manajamen bisnisnya itu sendiri.

Keuntungan yang mutual antara penyedia dan penerima teknologi iklim perlu didesain dengan regulasi yang kuat dalam perlindungan properti intelektual serta prosedur perizinan. Inilah sebuah ekosistem yang mana sedang kami tuju guna meningkatkan kepercayaan penyadang dana (investor) dalam melakukan investasi dan transfer teknologi bagi startup teknologi iklim.

Banyak pihak yang meramalkan bahwa Indonesia akan menjadi kekuatan utama ekonomi digital Asia Tenggara pada 2025. Tentu, teknologi iklim menjadi bagian dari arus besar tersebut, sehingga bukan tidak mungkin semakin memperlebar peluang bagi para pelakunya.

Ingin tahu lebih jauh mengenai climate-tech startup? Mari berinteraksi bersama kami.